|
Mendamaikan Rukyat dan Hisab |
|
Sabtu, 23 Juli 2011 01:49 |
Oleh: M. Safi'i N. - Alumnus PPFU 2005 Setiap menjelang memasuki bulan romadlon selalu hangat dibicarakan tentang lebih baik mana memulai dan mengakhiri puasa antara mengikuti ketetapan para ahli hisab (al-Hussab) atau kelompok ahli rukyah. Di sebagian majelis ilmu pembicaraan masalah ini tidak hanya hangat tetapi sudah mendidih yang ditandai dengan saling menyalahkan sehingga timbul ketegangan. Kalau diamati di permukaan saja kita sudah bisa melihat, bara yang menyebabkan ketegangan ini adalah salah paham tentang pengertian dan posisi rukyat-hisab. Untuk mengakhirinya, kita bisa menempuh jalan 'ilmu pengetahuan', yakni memahami keduanya (rukyat dan hisab) dari sudut pandang kelebihan dan kekurangannya menurut ilmu pengetahuan. Jalan keluar inilah yang saya maksud dengan Mendamaikan Keduanya.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
Senin, 13 Juni 2011 23:54 |
|
Oleh: Andy Aurel - Pedagang Pulsa
Pada suatu musim yang sangat kering, dimana saat itu burung-burungpun sangat sulit mendapatkan sedikit air untuk diminum, seekor burung gagak menemukan sebuah kendi yang berisikan sedikit air. Tetapi kendi tersebut merupakan sebuah kendi yang tinggi dengan leher kendi sempit. Bagaimanapun burung gagak tersebut berusaha untuk mencoba meminum air yang berada dalam kendi, dia tetap tidak dapat mencapainya. Burung gagak tersebut hampir merasa putus asa dan merasa akan meninggal karena kehausan.
Kemudian tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benaknya. Dia lalu mengambil kerikil yang ada di samping kendi, kemudian menjatuhkannya ke dalam kendi satu persatu. Setiap kali burung gagak itu memasukkan kerikil ke dalam kendi, permukaan air dalam kendipun berangsur-angsur naik dan bertambah tinggi hingga akhirnya air tersebut dapat di capai oleh sang burung Gagak.
Walaupun sedikit, pengetahuan bisa menolong diri kita pada saat yang tepat. |
|
Salah Kaprah di Masjid-masjid NU pada Hari Jum'at |
|
Minggu, 22 Mei 2011 18:50 |
|
Oleh: M. Safi'i N. - Alumnus PPFU 2005
Sebelum saya melantur kemana-mana, saya nyatakan bahwa saya adalah warga NU asli sejak lahir. Saya pernah punya KartaNU, tapi sudah hilang entah kemana. Sekarang saya hidup di masyarakat yang 85% warganya adalah warga NU. Sebab saya hidup di masyarakat NU, tentu saya sering kali melihat kebiasaan-kebiasaan masyarakat saya yang salah tapi kaprah, bahkan sampai pada taraf "menyesatkan". Salah satu salah kaprah itu adalah yang biasa terjadi di masjid-masjid NU, diantaranya adalah:
|
|
Selanjutnya...
|
|
|